Kontur Wajah

Implan Dagu, Genioplasty, atau Filler Dagu: Menggeser Tulang atau Menambah Sesuatu di Atasnya

dr. Yongwoo Leedr. Yongwoo Lee
12 Sep 2026·Diperbarui 19 Sep 2026
Bagikan
Implan Dagu, Genioplasty, atau Filler Dagu: Menggeser Tulang atau Menambah Sesuatu di Atasnya

Implan Dagu, Genioplasty, atau Filler Dagu: Mana yang Memperbaiki Dagu Kecil?

Pasien yang datang dengan dagu kecil biasanya sudah menimbang tiga nama: implan dagu, genioplasty, dan filler dagu. Karena dagu kecil biasanya berupa tulang yang letaknya kurang tepat, yang memperbaikinya adalah tindakan yang menggerakkan tulang itu ke arah yang kurang. Jadi arahnya saya tanyakan lebih dulu, baru nama tindakannya.

Sebagian besar pasien menimbang ketiganya menurut berat tindakannya: filler dulu, lalu implan, genioplasty paling akhir. Dari sisi kesediaan menjalani operasi urutan itu masuk akal, tetapi tulangnya sendiri belum diperiksa, sehingga yang terpilih sering tindakan yang bekerja di bidang lain.

Tulang dagu punya posisi di tiga bidang sekaligus: depan-belakang, atas-bawah, dan kiri-kanan. Lebarnya masih harus dihitung terpisah, sehingga yang perlu diperiksa ada empat. Dagu mundur hanya satu masalah di satu bidang, sebab itu tindakan dagunya tidak bisa dipilih sebelum keempatnya diketahui.

Karena implan dan filler sama-sama diletakkan di atas tulang yang hidup, keduanya hanya menambah proyeksi ke depan, sedangkan genioplasty menggeser tulang dagunya sendiri ke arah mana pun yang dibutuhkan.

Selisih antara dua cara itu sudah diukur: sesudah dagu dimajukan, jaringan lunak di atasnya ikut maju sekitar 0,9 mm per milimeter kemajuan tulang. Perbandingan itu disebut rasio jaringan lunak terhadap tulang (soft-to-hard tissue ratio), sedangkan tulang di bawah implan justru berubah bentuk. Dalam penelitian sefalometri jangka panjang atas 85 implan dagu silikon, lebih dari separuh pasiennya menunjukkan sebagian penyerapan tulang di bawah implan.

Tulang Dagunya Perlu Digeser, atau Cukup Ditambahi Sesuatu di Atasnya?

Sebelum saya menyebut nama produk apa pun, ada empat hal yang saya periksa pada tulangnya. Apakah dagunya berada di belakang tempat seharusnya, apakah terlalu panjang atau terlalu pendek, apakah terlalu lebar, dan apakah titik tengahnya tepat di garis tengah wajah? Jawaban atas keempatnya yang menentukan apakah tulang itu perlu digeser atau cukup ditambahi sesuatu di atasnya.

Diagram keputusan untuk augmentasi dagu yang menunjukkan gerbang pertama berdasarkan posisi rahang, dengan gigitan Kelas I disertai dagu kecil berlanjut ke empat pertanyaan tulang yang terpisah dan gigitan Kelas II disertai jarak gigit (overjet) keluar menuju penilaian ortognatik lebih dulu; keempat pertanyaan itu adalah apakah posisi sagitalnya berada di belakang tempat seharusnya, yang dijawab dengan filler sebagai gambaran awal, implan dagu, atau sliding advancement untuk kekurangan yang lebih dalam atau saat ada ketegangan bibir; apakah dagunya terlalu panjang atau terlalu pendek, yang dijawab dengan pemendekan vertikal yang membuang satu strip tulang horizontal atau pemanjangan vertikal yang menggeser segmennya turun; apakah dagunya terlalu lebar di antara tuberkulum mentale, yang dijawab dengan osteotomi T yang membuang satu strip tengah; dan apakah titik dagunya melenceng dari garis tengah, yang dijawab dengan pergerakan berbeda pada kedua sisi atau rotasi segmennya.

Tiap kondisi punya jawabannya sendiri: implan hanya mengatasi kekurangan ke depan sebesar beberapa milimeter, dan tidak lebih dari itu. Filler mengatasi kekurangan yang sama dalam ukuran lebih kecil, sedangkan osteotomi bisa mengatasi keempat-empatnya.

Sesudah itu baru gigitannya saya periksa, sebab dagu kecil kadang hanya ujung dari rahang yang seluruhnya mundur. Retrogenia, yaitu dagu kecil di atas mandibula yang selebihnya berada pada tempatnya, adalah diagnosis yang berbeda dari retrognatia. Pada retrognatia, seluruh rahang bawah berada di belakang rahang atas, dan yang membedakan keduanya adalah gigitannya: gigitan Kelas I dengan dagu kecil adalah masalah dagu. Gigitan Kelas II dengan gigi bawah jauh di belakang gigi atas, dan dengan jarak gigit (overjet) yang terukur, adalah masalah rahang. Tindakan dagu pada gigitan Kelas II adalah kompromi yang harus dipilih pasien dengan sadar, dan pembagian ini saya buat sendiri berdasarkan oklusinya, bukan aturan yang pernah diterbitkan.

Yang ketiga adalah ketegangan bibir (lip strain), yaitu keadaan ketika pasien hanya bisa menutup bibirnya dengan mengencangkan otot mentalis, sehingga kulit dagunya berkerut. Dalam laporan enam pasien berimplan silikon, posisi implannya sendiri baik. Pada keenamnya, bibir tidak mengatup tanpa usaha, otot mentalisnya bekerja berlebihan, dan erosi tulangnya berjalan progresif. Empat dari enam mencapai grade III, dan pada satu orang akar giginya sampai terbuka. Penulisnya menganjurkan tindakan selain implan untuk pasien dengan ketegangan bibir, dan menyebut genioplasty osteoplastik sebagai tindakan yang memulihkan konturnya begitu implan yang tererosi dikeluarkan.

Apa yang Terjadi pada Tulang di Bawah Implan dan pada Tulang yang Digeser?

Tulang di bawah implan mengalami remodeling, sedangkan tulang yang digeser sebagian besar bertahan di tempat barunya dan hanya kehilangan sepersekian milimeter. Keduanya sudah diukur berulang kali pada pasien, dan angkanya tidak sama.

Diagram potongan melintang sagital dagu, digambar dua kali pada skala yang sama untuk membandingkan menggeser tulang dengan menumpuk sesuatu di atasnya. Sisi kiri memperlihatkan segmen bawah dagu dipotong lepas lalu digeser ke depan di atas pelat, dengan garis jaringan lunak yang mengikuti tulang sekitar 0,9 mm per milimeter kemajuan dan 85 persen pergerakan tulang sampai ke permukaan. Sisi kanan memperlihatkan implan dagu bertumpu di atas tulang yang sama dengan cekungan dangkal akibat remodeling di bawahnya, garis jaringan lunaknya mengikuti implan pada 66 persen, dan keterangannya menyebut lebih dari separuh dari 85 pasien implan silikon dalam penelitian sefalometri jangka panjang menunjukkan sebagian penyerapan tulang di bawah implan.

Tulang di Bawah Implan Mengalami Remodeling

Resorpsi tulang di bawah implan dagu itu umum, biasanya dangkal, dan biasanya tanpa gejala. Pada penelitian sefalometri tahun 1976 terhadap 85 implan silikon, pasien yang mengalami resorpsi tidak menunjukkan perubahan profil jaringan lunaknya. Masih dari penelitian yang sama, penyerapannya lebih jarang terjadi di atas tulang basal yang tebal daripada di atas tulang alveolar. Dari 15 pasien yang dipindai sekurangnya setahun sesudah implan silikon intraoral, 14 menunjukkan erosi, yang terdalam 2,0 mm, dan tidak ada yang bergejala.

Tinjauan sistematis atas 28 studi pada pasien menemukan resorpsi pada semua bahan, dan sebagian besar studi melaporkan rata-rata di bawah 2 mm dalam lima tahun, dengan angka yang makin dalam bila pemantauannya makin panjang. Dari studi CT atas 105 pasien berimplan dan 108 kontrol muncul dua perbedaan lagi. Pasien dengan resorpsi punya otot mentalis lebih tebal, 6,35 lawan 5,73 mm. Tulang kortikalnya lebih tipis, 3,25 lawan 5,22 mm. Pada studi yang sama, silikon lebih rentan daripada polietilena berpori, dan penempatan yang rendah, di atas tulang basal, lebih jarang memicunya.

Dalam uji acak pada sepuluh anjing hound, resorpsi terjadi di bawah setiap implan, apa pun bidang penempatannya. Pada anak dengan sindrom Down berimplan silikon di tiga lokasi, tulang hanya tererosi di dagu, pada 75 persen, dan tumbuh kembali sesudah implan dilepas.

Maknanya masih diperdebatkan. Dalam laporan kasus 2025 dengan tinjauan pustaka, penulisnya berpendapat bahwa perubahan di bawah silikon adalah remodeling disertai pembentukan tulang baru, dan bahwa kekhawatirannya berlebihan. Yang tidak berubah adalah pengecualiannya: erosi progresif, satu kasus sampai memperlihatkan akar gigi, hanya terdokumentasi pada pasien dengan ketegangan bibir. Satu erosi berat di bawah implan ePTFE pun dikaitkan dengan otot mentalis yang bekerja berlebihan, bukan dengan bahan implannya.

Tulang yang Digeser Umumnya Bertahan di Tempat Barunya

Segmen dagu yang sudah dipelat kehilangan sepersekian milimeter, lalu bertahan. Dalam tinjauan ruang lingkup atas stabilitas genioplasty, kemajuan rata-rata 7,04 mm bergeser balik 0,69 mm pada enam bulan. Pada sepuluh pasien yang dagunya dimajukan lalu dipantau dengan sefalogram, tulang di segmen yang dimajukan terserap rata-rata 0,85 mm, atau 10,7 persen menurut laporannya. Pemendekan vertikal yang dikerjakan bersama pemunduran mandibula pada 40 pasien diukur sampai 12 bulan, dan pergeseran di menton berhenti di 0,22 mm. Pada studi yang sama, dagu lunaknya memendek kira-kira 0,59 mm per milimeter tulang yang dibuang.

Pergeseran baliknya tetap ada: dalam satu tinjauan sistematis terhadap 1.126 pasien mikrogenia, angkanya untuk osteotomi 2,63 sampai 27,21 persen. Dalam tinjauan yang dibatasi pada studi dengan pemantauan setahun atau lebih, jaringan lunak bergeser balik lebih banyak daripada jaringan keras pada tiga tahun. Pada dua tahun atau lebih, angkanya berkisar 0,77 sampai 0,91 dari kemajuan tulangnya.

Mengapa Jaringan Lunak Lebih Mengikuti Tulang yang Digeser daripada Implan

Jaringan lunak di atas dagu mengikuti tulang yang digeser lebih rapat daripada mengikuti implan, dan selisihnya sudah diukur. Dalam tinjauan sistematis atas 1.126 pasien mikrogenia, 740 ditangani dengan osteotomi dan 386 dengan implan. Pergerakan tulang diteruskan ke jaringan lunak sebanyak 85 persen sesudah genioplasty dan 66 persen sesudah implan. Perbandingan yang lebih tua atas 34 osteotomi dan 42 implan sudah menunjukkan arah yang sama: morbiditasnya setara, dan respons jaringan lunaknya lebih terduga sesudah osteotomi. Sudut servikomental juga membaik lebih banyak dengan osteotomi, sedangkan keduanya sama-sama tidak menyentuh lapisan lemak submental.

Arah gerakannya juga berpengaruh: pogonion lunak mengikuti kemajuan pada 0,9:1, sedangkan pemunduran hanya diikuti sekitar 0,5:1. Angka rata-rata itu pun tidak memperlihatkan sebarannya. Pada 31 pasien yang mandibulanya dimajukan, 17 di antaranya disertai genioplasty, rasio di pogonion memang 0,9:1, dengan sebaran plus minus 2,6 mm.

Jaringan lunak bisa menggantikan tulang. Holdaway menulis pada 1984 bahwa selubung integumen yang tebal di daerah dagu dapat menyelaraskan profil wajah bawah secara efektif. Penulis yang sama menyebut rentang posisi dagu yang bisa diterima itu lebar. Saat siluet E-line (garis dari ujung hidung ke ujung dagu) dinilai, daya tariknya baru turun pada dua rentang. Bibir yang berada 12 sampai 16 mm di belakang garis itu, atau 0 sampai 4 mm di depannya, menurunkan penilaiannya. Yang tidak bisa diperbaiki dengan mengubah tulangnya adalah bantalan dagu yang sudah turun dari tulang itu, sebab bantalan yang turun adalah soal jaringan lunak yang mengendur, dan perubahannya berjalan per dasawarsa.

Di Mana Saraf Mentalis Berada, dan Bagaimana Menghindarinya saat Genioplasty?

Saraf mentalis keluar dari mandibula lewat foramen mentale, di bawah gigi premolar, dan saraf inilah yang mempersarafi bibir bawah dan dagu. Garis osteotomi yang aman terletak lebih jauh di bawah foramen itu daripada yang disebut aturan klasik.

Diagram tampak lateral mandibula depan yang menunjukkan letak aman garis osteotomi genioplasty. Foramen mentale digambar di bawah gigi premolar, dengan lengkung anterior saraf mentalis berjalan maju melewati foramennya, dan kanalis alveolaris inferior menukik 3,44 sampai 4,42 mm di bawah foramen sebelum naik keluar lewat foramen itu. Garis putus-putus pada 5 sampai 6 mm di bawah foramen menandai tinggi potongan yang menurut studi CBCT atas 634 hemimandibula masih memotong kanal pada 9,9 persen, sedangkan garis osteotomi utuh pada 7 sampai 8 mm di bawahnya menandai tinggi yang menurut studi yang sama menurunkan risiko ke 2,5 persen pada 7,06 mm dan 0,5 persen pada 8,01 mm.

Aturan memotong sekurangnya 6 mm di bawah foramen berasal dari 52 hemimandibula yang dirontgen pada 1992, sedangkan pengukuran yang lebih baru menghasilkan angka berbeda. Dalam studi CBCT atas 317 pasien, yaitu 634 hemimandibula, kanalnya menukik rata-rata 3,44 sampai 4,42 mm di bawah foramen sebelum naik keluar lewat foramen itu. Karena itu potongan yang dianjurkan pada 5 sampai 6 mm masih memotong kanal pada 9,9 persen. Menurunkan garisnya ke 7,06 mm membuat risiko itu turun ke 2,5 persen. Pada 8,01 mm angkanya tinggal 0,5 persen, dan pada 9,12 mm tinggal 0,0005 persen.

Saraf ini juga berjalan maju melewati pintu keluarnya sendiri, dan lengkungan itu disebut lengkung anterior (anterior loop). Studi CBCT gigi yang mengukurnya dikerjakan untuk perencanaan implan gigi, bukan untuk genioplasty, dan satu di antaranya menemukannya pada 85,2 persen dari 732 hemimandibula, rata-rata 1,46 mm. Studi kedua menemukannya pada 67,8 persen dari 612 hemimandibula, rata-rata 3,3 mm dan sampai 7,3 mm. Studi ketiga menemukannya pada 47,2 persen dari 109 pemindaian. Tidak satu pun dari ketiganya memuat angka cedera untuk genioplasty.

Pemulihan sarafnya sendiri terdokumentasi: dari 50 pasien yang diuji setahun atau lebih sesudah operasi, tidak ada yang mengalami anestesia menetap. Hipoestesia objektif ada pada 17 persen sesudah genioplasty tanpa osteotomi sagital, dan 40 persen bila osteotomi sagital ditambahkan. Tidak ada pasien di studi itu yang menilai perubahannya sampai mengganggu aktivitas.

Pada implan, angkanya berbeda menurut bahan. Dalam tinjauan sistematis atas 39 artikel implan yang mencakup lebih dari 3.104 pasien, parestesia tercatat 0,4 persen dengan silikon dan 20,1 persen dengan polietilena berpori. Itulah satu-satunya komplikasi yang berbeda menurut bahannya. Kalau keduanya dibandingkan langsung, selisihnya hilang: pada kelompok 80 pasien yang menjalani osteotomi atau implan, gangguan saraf sensorisnya tidak berbeda (P = 0,137).

Sekilas Perbandingan Ketiga Pilihan

Genioplasty menggeser tulang dagu ke arah mana pun, sedangkan implan dagu menambah proyeksi ke depan di atas tulang. Filler dagu menambah hal yang sama dalam jumlah lebih kecil, dan ketiganya sama-sama termasuk augmentasi dagu. Yang membedakan ketiganya paling mudah dilihat dari kondisi tulangnya: setiap baris di bawah ini satu kondisi, dan kolom terakhirnya berisi tindakan yang tidak akan menyelesaikannya.

Kondisi daguArtinyaYang mengatasinyaYang tidak akan mengatasinya
Dagu kecil, gigitan Kelas I, kekurangan beberapa milimeterKekurangannya hanya sagitalFiller sebagai gambaran awal, implan, atau sliding advancementTidak ada yang tersingkir di baris ini; yang dipilih adalah seberapa awet hasilnya
Dagu kecil dengan kekurangan yang lebih besarUkurannya melampaui yang bisa dicapai implan secara terdugaSliding advancementImplan besar; pada perbandingan 76 pasien tahun 1990, implan dinilai terutama dapat dibenarkan untuk pasien lebih tua dengan mikrogenia derajat ringan
Dagu kecil disertai ketegangan bibirOtot mentalis bekerja untuk menutup bibirSliding advancementImplan, atas dasar laporan erosi pada enam pasien
Dagu panjang, yaitu kelebihan vertikalTulangnya berlebih dari bibir sampai ujung bawah daguPemendekan vertikal, satu strip horizontal dibuangApa pun yang menambah; filler dan implan justru memanjangkannya
Dagu pendek, yaitu kekurangan tinggi vertikalTinggi tulangnya terlalu sedikitPemanjangan vertikal, segmennya digeser turunImplan, yang menambah ke depan dan bukan ke bawah
Dagu lebar atau persegiLebarnya ada pada jarak antar tuberkulumPenyempitan lewat osteotomi T, strip tengahnya dibuangFiller untuk meruncingkannya, yang justru menambah panjang; begitu pula pembuangan lemak, yang letaknya di atas dagu
Dagu tidak simetrisGaris tengahnya melenceng, biasanya lebih lemah di sisi kiriKedua sisi digerakkan sejauh jarak yang berbeda, atau segmennya diputarImplan pabrikan, yang simetris karena cara pembuatannya
Gigitan Kelas II dengan jarak gigitSeluruh mandibulanya yang mundurPenilaian ortognatik lebih duluTindakan dagu sebagai langkah pertama
Dagu yang sudah berisi fillerAda bahan di bidang operasinyaMelarutkannya lebih duluMenambah lagi, atau mengoperasi lewat bahan yang sudah ada

Bagaimana Saya Memilih antara Menggeser Tulang, Memasang Implan, dan Menyuntik Filler

Saya memutuskan berdasarkan tulangnya, jadi pemindaian tulang saya kerjakan lebih dulu, dan nama tindakannya baru saya sebut sesudah ukurannya terlihat di layar.

Empat Hal yang Saya Ukur pada Tulang sebelum Membicarakan Tindakan

Pada foto profil dan CBCT saya mengukur empat hal: posisi sagital pogonion, tinggi vertikal dagu, lebar antar tuberkulum mentale, dan simpangan titik dagu dari garis tengah. Sefalogram lateral atau CBCT saya ambil pada setiap pasien genioplasty, dan saya tidak mengoperasi hanya berbekal foto, sebab jarak potongannya dari kanal saraf harus dihitung sampai milimeter.

Lalu gigitannya saya periksa langsung di kursi: gigitan Kelas I dengan dagu kecil adalah masalah dagu, dan itu bagian saya. Gigitan Kelas II dengan jarak gigit adalah masalah mandibula, jadi saya sampaikan apa adanya lalu merujuk untuk penilaian ortognatik sebelum menawarkan tindakan dagu sebagai kompromi. Alasannya sederhana: dagu yang dimajukan di bawah rahang yang masih mundur mengubah profilnya, sementara gigitannya tetap seperti semula.

Terakhir saya mencari ketegangan bibir, yaitu kulit dagu yang berkerut saat istirahat atau saat bibir dikatupkan. Pasien dengan temuan itu tidak mendapat implan dari saya, atas dasar laporan enam pasien tadi yang semuanya mengalami erosi progresif bersama ketegangan bibir, jadi yang saya tawarkan kepada mereka adalah osteotomi.

Cara Saya Mengerjakan Osteotominya dan Letak Sayatan Tulangnya

Sayatannya di dalam mulut, lewat mukosa bibir bawah, dan saya menyisakan manset otot mentalis yang masih menempel di tulang. Manset itu yang saya pakai untuk menjahit ototnya kembali di akhir. Sebelum gergajinya mendekati tulang, kedua saraf mentalis saya temukan lalu saya lindungi.

Potongan horizontalnya saya tandai di CBCT sekurangnya 7 mm di bawah titik terendah tiap foramen mentale, bukan 5 mm, dan alasannya ada pada pengukuran kanal di 634 hemimandibula. Pada 5 sampai 6 mm, potongannya masih memotong kanal pada kira-kira satu dari sepuluh hemimandibula, sedangkan pada 7,06 mm risikonya turun ke 2,5 persen.

Untuk sliding advancement, segmennya saya fiksasi dengan pelat bertingkat titanium (titanium step plate) dan sekrup monokortikal. Pelat itu tinggal di tempatnya, kecuali kalau bisa diraba lewat kulit atau terinfeksi.

Penyempitannya saya kerjakan dengan osteotomi T: satu potongan horizontal, satu strip vertikal di tengah dibuang, lalu kedua belahannya dirapatkan dan difiksasi. Genioplasty penyempitan lazim dikerjakan pada pasien Asia Timur, dan laporan 117 pasien osteotomi penyempitan geser mencatat komplikasi ringan 6,0 persen. Laporan itu memakai potongan penyempitan yang berbeda dari cara saya.

Pemendekan vertikal membuang satu strip tulang horizontal, sedangkan pemanjangan vertikal menggeser segmennya turun dan menyisakan celah untuk diisi tulang. Dagu yang tidak simetris saya perbaiki dengan menggerakkan kedua sisinya sejauh jarak yang berbeda, atau dengan memutar segmennya. Pada delapan kasus asimetri yang dikoreksi dengan panduan 3D, simpangan titik dagu pada enam bulan tinggal 0,63 ± 0,19 mm, dan sebagian besar dagu memang lebih lemah di sisi kiri.

Saat menutup, otot mentalisnya saya tambatkan ulang ke mansetnya. Alasannya ada pada studi atas 29 genioplasty intraoral: melepaskan otot mentalis menaikkan paparan gigi seri bawah rata-rata 1,88 mm, terbanyak sesudah pemendekan vertikal. Penambatan ulang itu cara saya menangani penurunan tersebut, tetapi belum ada studi yang mengujinya, dan saya tidak menyatakan bahwa penambatan ulang itu mencegahnya.

Kapan Saya Masih Memakai Implan, dan Bagaimana Implannya Difiksasi

Implan dagu saya pasang hanya ketika lima syarat terpenuhi sekaligus: kekurangannya hanya sagital dan sebesar beberapa milimeter, gigitannya Kelas I, korteks basalnya tebal di CBCT, tidak ada ketegangan bibir, dan pasiennya sudah mendengar kedua pilihan lalu menolak osteotominya.

Implannya saya letakkan rendah, di atas tulang basal, tidak pernah di atas tulang alveolar. Pada penelitian sefalometri tahun 1976 dan studi CT tahun 2024, resorpsinya sama-sama lebih sedikit pada penempatan rendah. Fiksasinya saya kerjakan dengan sekrup, atas dasar laporan 46 pasien implan polietilena berpori berfiksasi sekrup. Penulisnya menyatakan fiksasi sekrup mencegah pergeseran dan menutup celah antara implan dan tulang di bawahnya, dan tidak ada infeksi yang dilaporkan.

Bahan implannya saya pilih bersama pasien, dan kedua angka tadi saya sebutkan apa adanya: parestesia 0,4 persen pada silikon dan 20,1 persen pada polietilena berpori. Hasil studi CT bahwa silikon lebih rentan mengalami resorpsi juga saya sampaikan. Sebelum persetujuan tindakan ditandatangani, saya jelaskan kepada setiap pasien implan bahwa tulang di bawahnya akan mengalami remodeling, biasanya dangkal dan tanpa gejala. Satu hal lagi saya sampaikan sejak awal. Selama implannya masih terpasang, dagunya perlu difoto rontgen beberapa tahun sekali, dan pemeriksaan itu memang bagian dari perawatannya.

Kapan Filler Boleh Jadi Langkah Pertama, dan Sampai Mana Batasnya

Filler hanya memberi gambaran awal. Saya menjaganya tetap sedikit, sampai kira-kira 1 sampai 2 mL, dan angka itu batas saya sendiri, bukan angka dari studi mana pun. Saya menyuntikkannya di atas tulang di garis tengah, di bawah bidang arteri mentalis asendens, dan tidak pernah ke dalam otot mentalis.

Batas itu punya alasan anatomis. Dalam studi kadaver atas 31 wajah, arteri tersebut masuk ke dagu 5,64 ± 4,34 mm dari garis tengah. Kedalamannya 4,15 ± 1,95 mm, di dalam bidang ototnya. Filler di atas periosteum berada di bawah arteri itu, sedangkan filler di dalam otot mentalis masuk ke otot yang bergerak setiap kali bibir dikatupkan.

Filler saya tawarkan kepada pasien yang belum memutuskan soal osteotomi, dan saya tidak menawarkannya bila kekurangannya lebih dari beberapa milimeter, atau bila masalahnya vertikal, lebar, atau asimetri. Filler yang sudah ada di dagunya dilarutkan lebih dulu.

Efek filler diukur sebagai kenaikan derajat pada satu skala penilaian. Juvéderm Voluma XC disetujui untuk dagu pada 15 Juni 2020, dan Restylane Defyne pada 1 Februari 2021. Kedua tanggal persetujuan FDA itu berasal dari siaran pers produsennya, bukan dari halaman FDA sendiri.

Dalam uji pivotal Voluma atas 192 pasien, 56,3 persen pasien yang ditangani membaik sekurangnya satu derajat pada enam bulan, sedangkan kontrolnya 27,5 persen. Penilaian itu dibuat dari foto, sedangkan saat pasien yang sama dinilai langsung angka responsnya 91,8 persen, dan manfaatnya masih terlihat pada dua belas bulan. Dalam uji Defyne atas 107 pasien yang ditangani dan 33 yang tidak, 81 persen merespons pada minggu ke-12. Pada minggu ke-48 angkanya 74 persen.

Uji produk yang sama di Tiongkok mencatat 81 persen pada enam bulan dan 61 persen pada dua belas bulan. Dalam uji produk ketiga atas 150 pasien yang ditangani dan 50 yang tidak, angkanya 70 persen dan 54,67 persen. Setiap angka filler yang saya sebut adalah angka respons, bukan durasi, sebab uji filler mengukur derajat pada skalanya di bulan ke-6 dan ke-12. Belum ada studi yang membandingkan ketiga pilihan ini pada satu kelompok pasien yang sama.

Anda Termasuk Pasien yang Mana?

Enam pasien berikut datang dengan permintaan yang mirip dan pulang dengan rencana yang berbeda, dan yang membedakannya selalu temuan tulangnya.

Pasien 27 tahun, kekurangan sagital 4 mm, gigitan Kelas I, tanpa ketegangan bibir. Ia ingin melihat hasilnya dulu sebelum memutuskan. Filler di atas tulang sebanyak 1 sampai 2 mL cukup untuk itu, dan pilihan antara osteotomi dan implan menyusul.

Pasien 33 tahun, kekurangan 9 mm, kulit dagu berkerut saat istirahat. Dua temuan itu membuat implan tidak bisa dipakai. Ukurannya melampaui mikrogenia derajat ringan yang bisa diatasi implan secara terduga, dan otot mentalisnya bekerja melawan implan. Sliding advancement mengatasi keduanya sekaligus.

Pasien 30 tahun, dagu lebar dan persegi, meminta filler supaya lancip. Filler menambah ke depan dan ke bawah, sehingga dagunya justru akan menjadi lebih panjang. Lebarnya dikerjakan dengan osteotomi T.

Pasien 41 tahun, dagu panjang, wajah bawah memperlihatkan terlalu banyak gigi dan gusi. Kelebihan vertikal diperbaiki dengan membuang satu strip tulang horizontal, sebab tidak ada yang bisa ditumpuk di atas tulang untuk memendekkannya.

Pasien 24 tahun, gigitan Kelas II dengan jarak gigit 7 mm, meminta implan dagu. Dagunya kemungkinan besar sudah berada di tempat yang benar, tetapi rahangnya tidak. Penilaian ortognatik lebih dulu, baru dagunya dibicarakan.

Pasien 52 tahun, implan silikon lama, undakan baru di profilnya, bibir bawah mati rasa. Foto rontgen lebih dulu. Dalam laporan revisi 98 implan silikon, resorpsi adalah alasan revisi terbanyak, dan tujuh revisi berupa pelepasan implan lalu sliding genioplasty, sama banyaknya dengan yang menerima implan kustom. Rencananya pun sama: implannya dilepas, lalu sliding genioplasty.

Pemulihannya Seperti Apa sesudah Genioplasty, Implan, atau Filler?

Sesudah genioplasty, mati rasa di bibir bawah dan dagu itu biasa selama pemulihan, dan sebagian besar perubahan sensoris pulih dalam satu sampai tiga bulan. Sesudah implan, yang paling sering dilaporkan pasien adalah pembengkakan yang berkepanjangan, sedangkan sesudah filler biasanya nyeri tekan di lokasi suntik.

Pada 321 pasien Korea yang menjalani genioplasty penyempitan dan pemendekan vertikal bersama kontur mandibula, 87 mengalami perubahan sensoris sementara, dan semuanya pulih dalam tiga bulan. Dalam uji split-mouth atas 20 pasien, satu sisi tiap dagu ditangani dan sisi lainnya dibiarkan. Kedua sisi masih terukur berbeda pada empat bulan, dan sudah menyatu pada dua belas bulan. Kira-kira satu dari sepuluh pasien masih punya sebagian perubahan objektif pada satu tahun, yaitu 17 persen di studi uji sensoris dan 7,4 sampai 12,5 persen pada tinjauan yang membandingkan keduanya langsung. Tidak ada yang dilaporkan sampai mengganggu aktivitas.

Perbandingan pemulihan sepanjang tahun pertama untuk genioplasty, implan dagu, dan filler dagu, digambar dengan dua aturan yang tertulis di gambarnya: batang membentang sepanjang periode yang dicakup angkanya, sedangkan titik berarti satu kali pemeriksaan pada satu waktu. Baris genioplasty punya batang dari hari ke-0 sampai tiga bulan untuk mati rasa yang disadari pasien, kira-kira satu dari empat, dari 87 di antara 321 pasien yang menjalani genioplasty bersama kontur mandibula, dan secara terpisah satu titik pada dua belas bulan untuk perubahan sensoris yang hanya ditemukan saat pengujian, kira-kira satu dari sepuluh dan tidak ada yang sampai mengganggu aktivitas, yaitu 17 persen di satu studi dan 7,4 sampai 12,5 persen pada tinjauan yang membandingkan keduanya langsung. Baris implan dagu punya batang sepanjang satu tahun penuh untuk komplikasi ringan yang muncul kapan saja di tahun itu, kira-kira satu dari tujuh, yaitu 14,3 persen dari 105 implan ePTFE intraoral, berupa pembengkakan berkepanjangan, hipoestesia sementara bibir bawah, atau asimetri ringan. Baris filler dagu punya titik pada hari ke-0 untuk nyeri tekan dan pengerasan tepat sesudah suntikan, kira-kira empat dari lima, yaitu nyeri tekan 81,1 persen dan pengerasan 75,1 persen di uji pivotal Voluma. Satu catatan menyebutkan bahwa tiap baris menghitung jenis kejadian yang berbeda, sehingga persentasenya tidak bisa dibandingkan antarbaris.

Penyatuan tulangnya diperiksa dengan foto rontgen pada enam bulan, dan pelatnya sendiri jarang bermasalah. Pada 262 pasien genioplasty di dalam bedah ortognatik gabungan, tidak ada pelat dagu yang dilepas, dan infeksi di dagu terjadi satu kali. Angka yang sama untuk genioplasty tunggal belum diterbitkan.

Untuk implan, pada 105 implan ePTFE intraoral yang dipantau setahun tercatat komplikasi ringan 14,3 persen, seluruhnya berupa pembengkakan berkepanjangan, hipoestesia sementara bibir bawah, atau asimetri ringan. Sesudah filler, di uji pivotal Voluma nyeri tekan di lokasi suntik tercatat pada 81,1 persen dan pengerasan pada 75,1 persen.

Garis waktu yang saya pakai di praktik ini adalah protokol, bukan angka dari studi. Makanannya lunak selama sepekan, plester dagu dipakai selama sepekan, dan pasiennya bisa tampil di depan orang pada dua pekan. Dua pekan itu saya rencanakan bersama lama tinggal sesudah operasi.

Catatan dari Dokter Bedah

Dagu itu tulang yang punya letak, dan menggeser letaknya lebih sering saya pilih daripada menumpuk sesuatu di atasnya. Alasannya dua, dan dua-duanya sudah terukur. Jaringan lunak mengikuti tulang yang digeser lebih penuh daripada mengikuti implan, dan tulang di bawah implan terus mengalami remodeling selama implan itu masih ada. Tetapi kalimat yang paling sering menolong di konsultasi dagu justru bukan nama tindakan. Kalimat itu berbunyi begini: dagu Anda normal, yang mundur justru rahangnya.

Apa Risiko Genioplasty, Implan Dagu, dan Filler Dagu?

Risiko ketiga tindakan ini tidak sama. Implan lebih sering terinfeksi daripada osteotomi, sedangkan osteotomi lebih sering meninggalkan mati rasa, dan filler bisa menyumbat pembuluh darah.

Pada 1.048 lokasi osteotomi pada pasien ortognatik, 5 terinfeksi, yaitu 0,5 persen, satu di antaranya dagu, dan tidak ada pelat maupun sekrup yang dilepas karena infeksi itu. Laporan tindakan implan yang berdiri sendiri juga mencatat angka rendah: 1 infeksi atau 0,91 persen dari 110 augmentasi dagu polietilena berpori. Laporan 2003 mencatat nol infeksi pada 46 implan polietilena berpori berfiksasi sekrup. Dalam meta-analisis atas 48 studi dan 4.139 implan wajah, angka komplikasi keseluruhan 10,7 persen untuk semua lokasi digabung. Dalam analisis gabungannya, angka itu 2,78 persen untuk silikon, 2,48 persen untuk polietilena berpori, dan 1,02 persen untuk kalsium hidroksiapatit.

Arah perbandingannya konsisten: dalam tinjauan 1.126 pasien, implan punya angka infeksi dan luka yang terbuka kembali lebih tinggi daripada osteotomi. Pada 80 pasien tadi, infeksi bermakna lebih tinggi dengan implan (P = 0,028), sedangkan kepuasan lebih tinggi sesudah genioplasty (P = 0,001).

Resorpsi baru terhitung sebagai risiko ketika sampai membuat implannya harus direvisi. Dalam laporan 98 pasien implan silikon, 24 mengalami komplikasi, dan yang terbanyak resorpsi: 9 pasien mengalami resorpsi saja, dan 3 mengalaminya bersama pergeseran. Implannya perlu dilepas ketika erosi itu mengancam gigi atau mengubah rasa di wilayah saraf mentalis.

Osteotomi punya risikonya sendiri: dari 200 genioplasty di satu unit di Prancis, terjadi 6 komplikasi. Daftar komplikasi di unit itu berisi cedera saraf, perdarahan, nekrosis tulang, cedera gigi, dan dagu yang melorot. Dagu yang melorot berarti dagu lunak turun di bawah tepi bawah tulang.

Filler membawa risiko pembuluh darah, dan dua kasus penyumbatan yang sudah diterbitkan memperlihatkan seperti apa masuknya bahan ke dalam pembuluh. Satu laporan mencatat ancaman nekrosis dagu dan leher atas sesudah filler masuk ke arteri submentalis, lalu ditangani dengan empat kali hialuronidase dalam 24 jam. Laporan lain mencatat livedo retikularis sehari sesudah suntikan dagu bervolume rendah, ditangani dengan 2.850 IU hialuronidase selama 15 jam, dan pulih pada hari ke-21. Penulisnya menyatakan volume filler yang sangat sedikit pun bisa memicu penyumbatan pembuluh darah. Dalam uji pivotal Voluma, satu peserta dari 192, yaitu 0,5 persen, mengalami dua kejadian serius yang terkait tindakan, dan keduanya pulih.

Empat hal masih belum diketahui. Ketiga pilihan ini belum pernah dibandingkan pada satu kelompok pasien yang sama, dan angka pelepasan pelat sesudah genioplasty tunggal juga belum ada. Apa yang terjadi pada filler dagu sesudah kira-kira satu tahun juga belum jelas: dalam tinjauan sistematis 2026 atas 11 studi dan 876 pasien, pemantauannya rata-rata 12,8 bulan dan penulisnya menyebut hasil jangka panjangnya belum diketahui. Apakah filler dagu bergeser pun belum pernah diukur studi mana pun.

Tanyakan Arah Gerak Dagunya Lebih Dulu, Bukan Nama Produknya

Sebelum menanyakan produk mana yang cocok, tanyakan dagunya perlu bergerak ke arah mana dan sejauh berapa milimeter. Dagu yang perlu maju 4 mm, dagu yang 3 mm terlalu panjang, dan dagu yang terlalu lebar adalah tiga temuan berbeda. Dagu yang melenceng dari garis tengah adalah temuan keempat, dan hanya dagu yang kurang maju yang bisa diperbaiki dengan menambah sesuatu di atas tulang.

Tiga pertanyaan ini yang menentukan arah konsultasinya. Apakah gigitannya Kelas I, bidang mana yang menyimpang dan berapa milimeter menurut pemindaian, dan apakah bibirnya mengatup saat istirahat tanpa otot dagu ikut bekerja?

Nama produk baru disebut sesudah arah dan milimeternya ditetapkan dari pemindaian. Menyebutnya lebih dulu berarti memilih dari daftar produk, dan pilihan seperti itu sering tidak cocok dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan dagu itu.

Ditulis oleh dr. Yongwoo Lee, dokter spesialis bedah plastik di VIP Plastic Surgery, Korea Selatan, dengan fokus pada anatomi wajah dan bedah estetika.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Genioplasty, Implan Dagu, dan Filler Dagu

Apakah genioplasty lebih baik daripada implan dagu?

Untuk sebagian besar kasus, ya, sebab genioplasty menggeser tulangnya ke arah mana pun, sedangkan implan hanya menambah proyeksi ke depan. Pada 1.126 pasien mikrogenia, pergerakan tulang diteruskan ke jaringan lunak sebanyak 85 persen sesudah osteotomi dan 66 persen sesudah implan.

Apakah implan dagu menyebabkan kehilangan tulang?

Umumnya ya, sebagian tulang di bawah implan memang berkurang, dan penyerapannya biasanya dangkal. Pada penelitian sefalometri terhadap 85 pasien implan silikon, lebih dari separuh menunjukkan penyerapan pada foto rontgen. Tinjauan yang merangkum 28 studi menemukan rata-rata di bawah 2 mm dalam lima tahun.

Apakah resorpsi tulang akibat implan dagu berbahaya?

Dalam data yang ada, jarang: di penelitian-penelitian itu profil jaringan lunaknya tidak berubah, dan tidak ada pasien yang bergejala. Erosi progresif hanya terdokumentasi pada pasien dengan ketegangan bibir.

Filler dagu tahan berapa lama?

Jawaban jujurnya, uji klinis mengukur angka respons, bukan durasi: pada minggu ke-48 masih 74 persen yang merespons dengan Restylane Defyne. Pada 12 bulan angkanya 61 persen di uji Tiongkok dan 54,67 persen dengan produk lain. Angka dua tahun yang beredar untuk Voluma mengacu pada pipi, bukan pada dagu.

Apakah filler bisa membuat dagu lebar jadi lebih sempit?

Tidak bisa, sebab filler menambah volume, sehingga dagu lebar yang disuntik di ujungnya menjadi dagu lebar yang lebih panjang, sedangkan penyempitan mengeluarkan satu strip tulang di tengah.

Apakah implan dagu bisa memperbaiki dagu panjang?

Tidak, sebab implan menambah pada tulang dan tidak bisa memendekkannya. Dagu panjang butuh pemendekan vertikal, dan pada 40 kasus yang dikerjakan bersama pemunduran rahang, kerangkanya terbukti stabil pada 12 bulan.

Apakah dagu saya akan kehilangan rasa sesudah genioplasty?

Banyak pasien mengalaminya, dan sifatnya sementara: pada 321 pasien Korea, 87 mengalami mati rasa sementara dan semuanya pulih dalam tiga bulan. Pada satu tahun, pengujian menemukan hipoestesia ringan pada 17 persen, dan tidak ada yang sampai mengganggu aktivitas.

Apakah pelatnya harus dikeluarkan sesudah genioplasty?

Jarang: di praktik saya, pelat hanya dikeluarkan bila bisa diraba lewat kulit atau terinfeksi. Pada 262 pasien ortognatik gabungan tidak ada pelat dagu yang dilepas, dan angka untuk genioplasty tunggal belum diterbitkan.

Apakah implan dagu permanen?

Implannya sendiri permanen, sedangkan tulang di bawahnya mengalami remodeling, rata-rata di bawah 2 mm di sebagian besar studi dengan pemantauan kurang dari lima tahun. Dalam satu laporan pada anak, tulangnya tumbuh kembali sesudah implan dilepas.

Apakah implan dagu bisa dilepas lalu diganti genioplasty?

Bisa, dan revisi seperti itu lazim. Dalam laporan 98 pasien implan silikon, 7 dari 24 pasien yang butuh revisi menjalani pelepasan implan lalu sliding genioplasty. Rencana seperti itu dimulai dari foto rontgen, bukan dari pilihan implan baru.

Saya butuh operasi rahang atau operasi dagu?

Gigitannya yang menentukan: gigitan Kelas I dengan dagu kecil adalah masalah dagu. Gigitan Kelas II dengan gigi bawah jauh di belakang gigi atas adalah masalah mandibula, dan genioplasty tidak mengoreksinya.

Apakah filler bagus sebagai uji coba sebelum operasi?

Bagus, untuk kekurangan sagital yang kecil. Augmentasi dagu tanpa operasi dengan 1 sampai 2 mL di atas tulang memperlihatkan dagu yang lebih penuh selama berbulan-bulan, cukup lama untuk memilih antara osteotomi dan implan. Yang tidak bisa dicoba lebih dulu dengan filler adalah penyempitan, pemendekan, dan perbaikan asimetri.

Apa itu osteotomi T?

Osteotomi T adalah genioplasty penyempitan: potongan horizontalnya membebaskan segmen dagu bawah, satu strip di tengah dibuang, lalu kedua belahannya dirapatkan dan difiksasi. Di antara 321 pasien Korea yang menjalani genioplasty penyempitan dan pemendekan vertikal dengan membuang strip tengah, tidak ada komplikasi berat yang dilaporkan. Mati rasa sementara pada 87 di antaranya pulih dalam tiga bulan.

Bagaimana cara membedakan dagu saya kecil atau rahang saya mundur?

Gigit gigi belakang Anda, lalu lihat gigi depannya di cermin. Bila gigi depan bawah jauh di belakang gigi depan atas, seluruh rahangnya yang mundur. Sebaliknya, bila giginya bertemu normal dan dagunya tetap terlihat lemah, dagunya sendiri yang kecil.

Tag:implan dagu atau genioplastyaugmentasi dagusliding genioplastyresorpsi tulang implan dagufiller dagu atau implan dagufiller dagu tahan berapa lamaoperasi dagu kecildagu munduroperasi dagu lebarosteotomi Toperasi dagu panjangoperasi dagu tidak simetrismati rasa saraf mentalisbedah plastik Korea
Bagikan

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Keputusan menjalani operasi maupun tindakan lain sebaiknya diambil setelah berkonsultasi dengan dokter yang berkompeten.

Artikel Terkait